Langsung ke konten utama

Menuju kebebasan finansial. (Mitos yang diciptakan oleh motivator)

Kebebasan finansial sering digaungkan oleh banyak motivator keuangan yang dimana mereka membuka kelas belajar. 
Yes, mereka membuka kelas belajar untuk kebebasan mereka sendiri dan tidak untuk anda. Anda hanya diberikan impian, harapan, motivasi yang palsu agar didalam otak anda tercipta sebuah visi baru dalam kehidupan.
Kebebasan finansial itu MITOS. Sangat mitos bagi mereka yang berangkat dari garis ekonomi miskin Sampai sederhana. Kebebasan finansial soal itu sering dihitung dari seberapa banyak uang yang berputar dan terus menghasilkan lalu dipotong biaya hidup. Jika surplus maka itu sudah dikatakan bebas finansial dan sebaliknya.

What the fuck dude, didalam hidup kita itu harus terus berupaya dan bergerak aktif, entah hitungan mu itu surplus atau minus. Ilusi kebebasan finansial sangat sesat jika dimakan mentah-mentah. Contoh ada influence mengatakan, oke kamu harus belajar ini itu tentang crypto, Saham, atau apakah instrumen investasi lainnya lalu jika kamu bisa menemukan hidden gem lalu kamu investasi kan modal mu. Anda boom, they are gone. Fuck lah dengan istilah kebebasan finansial.

Yang terbaik adalah menambah terus earning dengan banyak pipa penghasilan, tidak usah berpikir kebebasan finansial. Yang penting pemasukan selalu datang dan dikelola dengan cermat agar pemasukan itu bisa menciptakan pemasukan yang lain dan begitu terus menerus. Tidak usah berpikir untuk pensiun dini dalam finansial. Tapi kita harus berupaya untuk membuka keran-keran pendapatan lalu dimanfaatkan semaksimal mungkin agar mereka bisa kita manfaatkan sebaik mungkin. 

Kebebasan finansial menurutku hanyalah MITOS yang harusnya menjadi seperti apa adanya kita menyikapi mitos. Bangun didunia nyata ini dan tidak usah menjadikan kebebasan finansial sebagai goal dalam hidup. Karena kenikmatan dalam mengelola finansial merupakan seni dalam kehidupan. Tidak perlu kebebasan atau apalah, karena visi terbesar dalam finansial adalah mengelola mereka untuk minimal bisa mempertahankan hidup pengelolanya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Amorfati tanpa ego fatum.

Berjalan menjalani kehidupan yang meliuk-liuk ini begitu melelahkan, kaki ini capek melangkah, tangan ini lelah menahan beban yang dibawa, punggung ini akankah tetap mampu menahan hantaman kehidupan, pikiran ini bergelayut terbang ke dunia angan yang tak bertepi dan tak berjurang, ingin rasanya jatuh saja kedalam lorong hitam gelap agar ku tak perlu repot dengan ini semua, hati ini berkecambuk resah gundah gulana. Gravitasi seakan semakin kuat menarik kita untuk jatuh tersungkur mencium bumi yang mulai tandus ini. Tapi apakah ini kan menjadi akhir dari dialektika panjang kehidupan yang dimulai sejak ruh   itu ditiupkan dalam rahim ibunda. Tentulah bukan, ini adalah indahnya kehidupan yang penuh nilai estetika. Hidup ini setelah jatuh bukanlah harus terus tersungkur dan menyerah tanpa harap untuk bisa bangkit lagi, karena kesucian dalam kehidupan bukanlah menyerah tanpa harap tapi bangkit lagi dengan penuh kepasrahan kepada Allah SWT dan penuh harap padaNYA hanya padaNYA.  ...

Sabrang Mowo Damar Panuluh

Semacam ada rasa canggung saat pertama kali meletakkan 10 jari ini pada keyboard, didalam pikiran terdapat banyak   sekali kata yang saling berebut untuk minta diketik pada Microsoft word, mereka saling berjubel diujung-ujung neuron (sel-sel saraf) seperti rakyat kita kala antri untuk beras murah dari pemerintah. Bahkan dari huruf yang membentuk kata, dari kata yang membentuk kalimat serta kalimat yang terangkai dalam bingkai panjang paragraph pun ada, mereka berdesak-desakan ingin keluar dari pikiran untuk ditulis dalam bentuk nyata berupa deretan huruf yang bisa dibaca. Bahkan mereka berteriak dalam imaji ku “keluarkan kami, keluarkan kami, kami bosan berada dalam pikiran mu, tolong keluarkan kami, lahirkan kami sebagai hal nyata yang bisa dibaca”, teriak salah satu kalimat dalam imaji tadi. Begitu gaduhnya pikiran ini hingga penulis yang dulunya sangat sabar dalam meredam mereka untuk keluar (karena malas nulis) akhirnya tak tahan lagi hingga terwujudlah kombi...

Relevansi Madilog di Era Modern

Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) karya Tan Malaka (1943) adalah upaya untuk membangun cara berpikir rasional dan ilmiah dalam konteks perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun, prinsip-prinsipnya masih relevan hari ini, terutama dalam menghadapi tantangan seperti:   1. Melawan Hoaks & Dogmatisme   - Logika: Madilog menekankan pentingnya verifikasi fakta dan penalaran sistematis. Di era banjir informasi, pendekatan ini bisa menjadi tameng terhadap hoaks, propaganda, atau narasi yang tidak kritis (misalnya: politik identitas, konspirasi tanpa bukti).    - Contoh: Analisis Madilog mirip dengan critical thinking modern—seperti memeriksa sumber, konsistensi argumen, dan bias tersembunyi.   2. Dialektika untuk Analisis Sosial  - Konflik Dinamis: Dialektika Madilog (tesis-antitesis-sintesis) bisa diterapkan untuk membaca perubahan sosial, seperti:   - Ketimpangan ekonomi vs gerakan kesetaraan.   - Teknologi vs disrups...