Dimiliki Catatan tentang yang terbatas di hadapan yang tak terbatas Kita sering berpikir bahwa kita ini memiliki Tuhan secara utuh. Padahal Tuhan menciptakan kita sebagai makhluk yang terbatas, dan justru di situ letak persoalannya: bagaimana mungkin yang terbatas mengaku punya hak untuk memiliki Dzat yang tak terbatas — Dzat yang tiada sesuatu pun mampu membatasi-Nya? Tulisan ini bukan jawaban tuntas, melainkan satu jalan menalar; bukan doktrin yang harus dijalankan, melainkan satu pijakan yang bisa dipakai dalam beragama. I. Kita Dimiliki Yang pertama harus kita sadari: kita ini milik Tuhan. Makhluk terbatas yang dimiliki oleh Sang Maha Tak Terbatas. Perhatikan arah kalimatnya — kita dimiliki, bukan memiliki. Sebab memiliki makhluk adalah hak Tuhan, dan hak itu mengalir satu arah. Inilah titik pijak ontologis kita: sebelum bicara apa pun tentang relasi kita dengan-Nya, kita mulai dari posisi sebagai yang dipunyai, bukan yang punya. II. Batas Itu Bernama Iman Yang kedua: kepemilikan k...
Lelaki menyimpan sejuta pikiran yang tak mungkin ia tumpahkan ke dunia, sebab ia paham dunia akan menampiknya — bahkan menabraknya kembali. Maka ia bergelut dalam sunyi; merenung di gelap malam menjadi muara paling jujur bagi segala yang tak sempat terucap. Lelaki tak ambil pusing pada hujatan, makian, bahkan tuduhan atas hal yang tak pernah ia perbuat. Bukan karena matinya rasa, bukan karena matinya nalar — justru karena keduanya masih hidup, dan ia memilih menahannya ketimbang menyeretnya ke pertarungan yang tak berujung. Lelaki yang lelah hanya akan menepi. Menyendiri. Tanpa satu kata pun lepas dari mulutnya — sebab pergolakan sedang berkecamuk di medan pikirannya, dan tak semua perang layak disuarakan. Dan begitulah lelaki: menghadapi apa pun dengan punggung yang tetap tegak, menerima luka tanpa berpaling, sebab baginya lebih baik terluka sambil berdiri daripada utuh sambil tersungkur. Tapi ketegaran itu bukan tanpa ongkos. Ada yang diam-diam terkikis setiap kali ia menelan kata ya...