Lelaki menyimpan sejuta pikiran yang tak mungkin ia tumpahkan ke dunia, sebab ia paham dunia akan menampiknya — bahkan menabraknya kembali. Maka ia bergelut dalam sunyi; merenung di gelap malam menjadi muara paling jujur bagi segala yang tak sempat terucap.
Lelaki tak ambil pusing pada hujatan, makian, bahkan tuduhan atas hal yang tak pernah ia perbuat. Bukan karena matinya rasa, bukan karena matinya nalar — justru karena keduanya masih hidup, dan ia memilih menahannya ketimbang menyeretnya ke pertarungan yang tak berujung.
Lelaki yang lelah hanya akan menepi. Menyendiri. Tanpa satu kata pun lepas dari mulutnya — sebab pergolakan sedang berkecamuk di medan pikirannya, dan tak semua perang layak disuarakan.
Dan begitulah lelaki: menghadapi apa pun dengan punggung yang tetap tegak, menerima luka tanpa berpaling, sebab baginya lebih baik terluka sambil berdiri daripada utuh sambil tersungkur.
Tapi ketegaran itu bukan tanpa ongkos. Ada yang diam-diam terkikis setiap kali ia menelan kata yang urung ia ucapkan; ada bagian dari dirinya yang aus tanpa seorang pun melihat. Ia tetap berdiri — tapi berdiri pun, ternyata, melelahkan.
Lelaki, oh lelaki. Sendiri kau lawan dunia yang sewaktu-waktu menggulungmu hingga tak bersisa — raga, pikiran, daya juang, semua lenyap ditelan pasang. Diseret arus, dikoyak ombak, kau timbul-tenggelam bagai riak tanpa arah. Tak ada tepi. Tak ada pagi. Hanya laut, dan kau yang perlahan kehilangan bentuk di dalamnya.
Komentar
Posting Komentar