Dimiliki
Catatan tentang yang terbatas di hadapan yang tak terbatas
Kita sering berpikir bahwa kita ini memiliki Tuhan secara utuh. Padahal Tuhan menciptakan kita sebagai makhluk yang terbatas, dan justru di situ letak persoalannya: bagaimana mungkin yang terbatas mengaku punya hak untuk memiliki Dzat yang tak terbatas — Dzat yang tiada sesuatu pun mampu membatasi-Nya? Tulisan ini bukan jawaban tuntas, melainkan satu jalan menalar; bukan doktrin yang harus dijalankan, melainkan satu pijakan yang bisa dipakai dalam beragama.
I. Kita Dimiliki
Yang pertama harus kita sadari: kita ini milik Tuhan. Makhluk terbatas yang dimiliki oleh Sang Maha Tak Terbatas. Perhatikan arah kalimatnya — kita dimiliki, bukan memiliki. Sebab memiliki makhluk adalah hak Tuhan, dan hak itu mengalir satu arah. Inilah titik pijak ontologis kita: sebelum bicara apa pun tentang relasi kita dengan-Nya, kita mulai dari posisi sebagai yang dipunyai, bukan yang punya.
II. Batas Itu Bernama Iman
Yang kedua: kepemilikan kita terhadap Tuhan harus dibatasi. Mengapa? Karena yang terbatas tidak akan pernah mampu merangkum yang tak terbatas. Harus ada limitasi agar kita sadar pada ukuran diri.
Tapi mari jujur menelusuri sampai ke dasarnya. Mungkin soalnya bukan sekadar kadar — bukan "memiliki Tuhan secukupnya". Mungkin kata kerjanya sendiri yang keliru sejak awal. Memiliki mengandaikan ada kuasa dan hak si pemilik atas yang dimiliki, dan itu justru kebalikan total dari posisi kita di gerakan pertama tadi. Maka limitasi yang sehat barangkali bukan memperkecil rasa memiliki, melainkan menggantinya dengan relasi yang lebih jujur: kedekatan, titipan, kepercayaan — bukan hak milik.
Nama dari kesadaran ini adalah iman. Bukan iman sebagai pengetahuan tentang Tuhan, tapi iman sebagai pengakuan akan batas: keyakinan yang menyadarkan bahwa makhluk itu terbatas dan dimiliki oleh Dzat yang tak terbatas. Cara pandang ini adil dalam arti yang paling tua dari kata adil — menempatkan sesuatu pada tempatnya. Menaruh diri sebagai yang dimiliki adalah kerja keadilan itu sendiri.
III. Rem dalam Tiap Langkah
Dari kesadaran itu lahir konsekuensi yang sangat praktis. Saat kita meyakini diri sebagai milik Tuhan, setiap langkah lewat lebih dulu melalui filter Ilahiah. Ketika kita hendak melanggar aturan yang telah diberikan, ada rem — ada yang menahan sebelum tindakan terjadi.
Bandingkan dengan orang yang tidak memberi limitasi pada kepemilikannya atas Tuhan. Ketika seseorang merasa memiliki Tuhan, ia cenderung bertindak seenaknya. Apa pun dosa dan perbuatan tercela ia anggap pasti terampuni, karena ia merasa Tuhan ada di genggamannya. Kontrol diri yang semestinya jadi navigasi diterobos oleh logical fallacy yang ia ciptakan sendiri untuk mencuci kelakuan buruknya. Tobat ia pakai sebagai sabun wangi — pembersih instan yang menjadikan dosa terasa ringan untuk diulang.
Satu hal perlu dijernihkan di sini: yang busuk itu bukan tobat, melainkan tiruannya. Tobat yang sungguh-sungguh justru berat syaratnya — menyesal, berhenti, bertekad tidak mengulang, dan mengembalikan hak orang bila ada yang terampas. Sabun wangi itu bukan tobat; ia hanya menyaru sebagai tobat. Jangan sampai kritik atas pemalsuan ini membuat kita menjauhi barang aslinya.
Dan ada jurang di sisi seberang yang sama dalamnya. Kerangka batas, rem, dan filter ini condong pada rasa takut yang sehat. Tapi bila takut menjadi satu-satunya nada, kita bisa terperosok ke putus asa dari rahmat-Nya. Tradisi yang sama yang melarang kita merasa "memiliki Tuhan" juga melarang kita berputus asa — keduanya bentuk kesombongan: satu kesombongan kuasa, satu lagi kesombongan dosa. Karena itu, batas saja belum cukup. Ia menuntut mahkota.
IV. Ridha: Mahkota yang Rela
Mahkotanya adalah kerelaan. Di sinilah mahabbah, kedekatan, dan kelembutan masuk — dan tanpanya, Tuhan menyusut jadi sekadar polisi pengawas yang fungsinya cuma mengerem.
Kedekatan itu hidup dalam keridhaan kita terhadap kondisi diri. Apa pun yang terjadi dalam hidup adalah wujud cinta Tuhan kepada kita, dan wujud cinta kita kepada-Nya adalah menjalani hidup dengan penuh syukur dan suka cita. Inilah pasangan afektif yang pas dari "kita ini milik": yang dimiliki, bila benar-benar menerima dirinya dimiliki dengan cinta, itulah ridha.
Tetapi kalimat "apa pun yang terjadi adalah wujud cinta Tuhan" perlu pisau, sebab bila dibiarkan rata ia bisa meretakkan dua hal sekaligus.
Ke dalam diri: sebagian dari "kondisi kita" adalah perbuatan buruk kita sendiri. Apakah kita ridha pada dosa kita juga? Bila iya, itu sabun wangi yang sama — hanya berganti merek dari "tobat" menjadi "ridha".
Ke luar diri: bila segala yang terjadi otomatis cinta Tuhan, bagaimana dengan lapar anak orang lain, dengan ketidakadilan yang nyata? Ridha yang rata berisiko menjelma fatalisme yang membungkam — diam di depan kemungkaran sambil berdalih "ini kehendak-Nya".
Tradisi menyediakan skalpel untuk ini. Bedakan ridha terhadap ketetapan dan hikmah di baliknya dari ridha terhadap isi yang ditetapkan. Tuhan menghendaki suatu keburukan terjadi, tapi tidak menyukainya; Dia membenci kemungkaran yang Dia izinkan ada. Maka yang kita cintai adalah kebijaksanaan Sang Pemilik atas hidup kita, bukan otomatis barangnya. Kita bisa ridha penuh pada hikmah-Nya sambil tetap melawan keburukan — termasuk keburukan dalam diri sendiri. Ridha pada cobaan yang menimpa kita; perlawanan pada ketidakadilan yang menimpa orang lain. Keduanya tidak bertentangan; keduanya justru saling menjaga.
Dan akhirnya satu pertanyaan untuk dibawa pulang. Syukur kita ini — cinta pada Sang Pemberi, atau cinta pada pemberian? Ridha yang paling dalam barangkali adalah yang tetap utuh seandainya pemberian itu pahit. Rela bukan karena hidup ditata demi kenyamananku, tapi karena hidup ini memang milik-Nya. Di titik itu, syukur berhenti menjadi transaksi dan berubah menjadi cinta.
Komentar
Posting Komentar