Langsung ke konten utama

Inikah Synthesa itu?

Apakah ini yang namanya stagnan ataukah dialektika yang telah menemukan synthesanya?

Karena akhir-akhir ini saya sudah tidak mempunyai titik berat untuk menggantungkan harapan pada manusia ataupun pada diri sendiri. Jika ini sebuah stagnan maka saya harus berhenti menulis ini sekarang juga dan berdiam diri atau mungkin tidur dan melupakan kejadian-kejadian yang telah dialami. 

Atau mungkin ini adalah synthesa dari banyaknya thesa yang dihadapkan pada anti-thesa yang lumayan banyak pula. Seakan hanya ingin menjalani hidup ini apa adanya, tidak mau mengambil banyak pikiran yang destruktif, apa lagi pikiran-pikiran yang memancing hasrat untuk ini dan itu. Yah, hidup kata banyak orang harus ada goalsnya harus ada tujuan yang jelas akan mengarah kemana hidup itu, seperti sebuah strategi bola untuk mencapai goals yang dimaksud. 

Saat ini saya lebih berbeda untuk melihat hal tersebut. Goals itu sangat dinamis, tergantung dititik mana kita berhenti sejenak untuk merasakan apa saja yang telah dilalui, kurang renungan juga tidak baik pula. Karena renungan itu adalah remider kita saat kita melangkah terlalu jauh. 

Jika ditanya lagi, apa goals ku dalam waktu dekat ini? maka jawabnya adalah kita lihat saja kedepan, kemungkinan-kemungkinan apa saja yang bisa terjadi. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Amorfati tanpa ego fatum.

Berjalan menjalani kehidupan yang meliuk-liuk ini begitu melelahkan, kaki ini capek melangkah, tangan ini lelah menahan beban yang dibawa, punggung ini akankah tetap mampu menahan hantaman kehidupan, pikiran ini bergelayut terbang ke dunia angan yang tak bertepi dan tak berjurang, ingin rasanya jatuh saja kedalam lorong hitam gelap agar ku tak perlu repot dengan ini semua, hati ini berkecambuk resah gundah gulana. Gravitasi seakan semakin kuat menarik kita untuk jatuh tersungkur mencium bumi yang mulai tandus ini. Tapi apakah ini kan menjadi akhir dari dialektika panjang kehidupan yang dimulai sejak ruh   itu ditiupkan dalam rahim ibunda. Tentulah bukan, ini adalah indahnya kehidupan yang penuh nilai estetika. Hidup ini setelah jatuh bukanlah harus terus tersungkur dan menyerah tanpa harap untuk bisa bangkit lagi, karena kesucian dalam kehidupan bukanlah menyerah tanpa harap tapi bangkit lagi dengan penuh kepasrahan kepada Allah SWT dan penuh harap padaNYA hanya padaNYA.  ...

Sabrang Mowo Damar Panuluh

Semacam ada rasa canggung saat pertama kali meletakkan 10 jari ini pada keyboard, didalam pikiran terdapat banyak   sekali kata yang saling berebut untuk minta diketik pada Microsoft word, mereka saling berjubel diujung-ujung neuron (sel-sel saraf) seperti rakyat kita kala antri untuk beras murah dari pemerintah. Bahkan dari huruf yang membentuk kata, dari kata yang membentuk kalimat serta kalimat yang terangkai dalam bingkai panjang paragraph pun ada, mereka berdesak-desakan ingin keluar dari pikiran untuk ditulis dalam bentuk nyata berupa deretan huruf yang bisa dibaca. Bahkan mereka berteriak dalam imaji ku “keluarkan kami, keluarkan kami, kami bosan berada dalam pikiran mu, tolong keluarkan kami, lahirkan kami sebagai hal nyata yang bisa dibaca”, teriak salah satu kalimat dalam imaji tadi. Begitu gaduhnya pikiran ini hingga penulis yang dulunya sangat sabar dalam meredam mereka untuk keluar (karena malas nulis) akhirnya tak tahan lagi hingga terwujudlah kombi...

MemilikiMu seutuhnya aku tak mungkin, dimiliki olehMu aku yakin dan mungkin.

Dimiliki Catatan tentang yang terbatas di hadapan yang tak terbatas Kita sering berpikir bahwa kita ini memiliki Tuhan secara utuh. Padahal Tuhan menciptakan kita sebagai makhluk yang terbatas, dan justru di situ letak persoalannya: bagaimana mungkin yang terbatas mengaku punya hak untuk memiliki Dzat yang tak terbatas — Dzat yang tiada sesuatu pun mampu membatasi-Nya? Tulisan ini bukan jawaban tuntas, melainkan satu jalan menalar; bukan doktrin yang harus dijalankan, melainkan satu pijakan yang bisa dipakai dalam beragama. I. Kita Dimiliki Yang pertama harus kita sadari: kita ini milik Tuhan. Makhluk terbatas yang dimiliki oleh Sang Maha Tak Terbatas. Perhatikan arah kalimatnya — kita dimiliki, bukan memiliki. Sebab memiliki makhluk adalah hak Tuhan, dan hak itu mengalir satu arah. Inilah titik pijak ontologis kita: sebelum bicara apa pun tentang relasi kita dengan-Nya, kita mulai dari posisi sebagai yang dipunyai, bukan yang punya. II. Batas Itu Bernama Iman Yang kedua: kepemilikan k...