Langsung ke konten utama

Apa itu Keberuntungan?

I'm a Lucky man. 
Kalimat diatas merupakan afirmasi yang bagus untuk meningkatkan kepercayaan diri kita terhadap tantangan kehidupan.
Karena keberuntungan itu tidak bisa diciptakan begitu saja, karena menurut ku keberuntungan merupakan hal yang bisa dikalkulasi dan diukur. 

Komposisi dari keberuntungan adalah 
50 % Kesiapan; 
50 % Momentum;
Kesiapan merupakan daya upaya individu untuk belajar banyak hal, mempraktekkan teori-teori hingga menjadi sebuah pengalaman hidup yang bisa menjadi teropong untuk melihat kesempatan-kesempatan yang ada. 
Lalu momentum, momentum merupakan kesempatan yang hadir pada individu dimana dia hadir bisa sangat cepat dan bisa sangat lambat tergantung seberapa peka individu itu menyadarinya.


Jadi Keberuntungan akan hadir jika kesiapan dan momentum bertemu. Kapan dan dimana tentu tidak ada yang tahu, karena cara terkeren untuk menjadi beruntung adalah selalu menyiapkan diri untuk setiap keadaan yang ada lalu menggunakan hal tersebut untuk tetap survive dan reliable. Karena keberuntungan butuh individu yang sanggup untuk menerimanya. 

Kesiapan + Momentum = Keberuntungan.
Semoga kita menjadi manusia yang selalu beruntung. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Amorfati tanpa ego fatum.

Berjalan menjalani kehidupan yang meliuk-liuk ini begitu melelahkan, kaki ini capek melangkah, tangan ini lelah menahan beban yang dibawa, punggung ini akankah tetap mampu menahan hantaman kehidupan, pikiran ini bergelayut terbang ke dunia angan yang tak bertepi dan tak berjurang, ingin rasanya jatuh saja kedalam lorong hitam gelap agar ku tak perlu repot dengan ini semua, hati ini berkecambuk resah gundah gulana. Gravitasi seakan semakin kuat menarik kita untuk jatuh tersungkur mencium bumi yang mulai tandus ini. Tapi apakah ini kan menjadi akhir dari dialektika panjang kehidupan yang dimulai sejak ruh   itu ditiupkan dalam rahim ibunda. Tentulah bukan, ini adalah indahnya kehidupan yang penuh nilai estetika. Hidup ini setelah jatuh bukanlah harus terus tersungkur dan menyerah tanpa harap untuk bisa bangkit lagi, karena kesucian dalam kehidupan bukanlah menyerah tanpa harap tapi bangkit lagi dengan penuh kepasrahan kepada Allah SWT dan penuh harap padaNYA hanya padaNYA.  ...

Sabrang Mowo Damar Panuluh

Semacam ada rasa canggung saat pertama kali meletakkan 10 jari ini pada keyboard, didalam pikiran terdapat banyak   sekali kata yang saling berebut untuk minta diketik pada Microsoft word, mereka saling berjubel diujung-ujung neuron (sel-sel saraf) seperti rakyat kita kala antri untuk beras murah dari pemerintah. Bahkan dari huruf yang membentuk kata, dari kata yang membentuk kalimat serta kalimat yang terangkai dalam bingkai panjang paragraph pun ada, mereka berdesak-desakan ingin keluar dari pikiran untuk ditulis dalam bentuk nyata berupa deretan huruf yang bisa dibaca. Bahkan mereka berteriak dalam imaji ku “keluarkan kami, keluarkan kami, kami bosan berada dalam pikiran mu, tolong keluarkan kami, lahirkan kami sebagai hal nyata yang bisa dibaca”, teriak salah satu kalimat dalam imaji tadi. Begitu gaduhnya pikiran ini hingga penulis yang dulunya sangat sabar dalam meredam mereka untuk keluar (karena malas nulis) akhirnya tak tahan lagi hingga terwujudlah kombi...

Relevansi Madilog di Era Modern

Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) karya Tan Malaka (1943) adalah upaya untuk membangun cara berpikir rasional dan ilmiah dalam konteks perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun, prinsip-prinsipnya masih relevan hari ini, terutama dalam menghadapi tantangan seperti:   1. Melawan Hoaks & Dogmatisme   - Logika: Madilog menekankan pentingnya verifikasi fakta dan penalaran sistematis. Di era banjir informasi, pendekatan ini bisa menjadi tameng terhadap hoaks, propaganda, atau narasi yang tidak kritis (misalnya: politik identitas, konspirasi tanpa bukti).    - Contoh: Analisis Madilog mirip dengan critical thinking modern—seperti memeriksa sumber, konsistensi argumen, dan bias tersembunyi.   2. Dialektika untuk Analisis Sosial  - Konflik Dinamis: Dialektika Madilog (tesis-antitesis-sintesis) bisa diterapkan untuk membaca perubahan sosial, seperti:   - Ketimpangan ekonomi vs gerakan kesetaraan.   - Teknologi vs disrups...